Chat with us, powered by LiveChat

About Me

header ads

Kisahnya Menginspirasi, Bocah yang Rela Merangkak Sejauh 3 KM ke Sekolah Kini Disorot Media Asing

www.korankiu.com

BERITA TERKINI ``Masih ingat dengan Mukhlis Abdul Kholik?

Mukhlis Abdul Kholik merupakan siswa penyandang disabilitas asal Sukabumi, Jawa Barat yang harus merangkak sejauh tiga kilometer untuk menuju ke sekolahnya.

Kisah Mukhlis Abdul Kholik, siswa SD penyandang disabilitas asal Sukabumi ini menjadi viral karena semangatnya yang menginspirasi.

Mukhlis kemudian menjadi pemberitaan di berbagai media.

Mukhlis juga diundang ke acara Hitam Putih, sebuah program televisi yang dipandu oleh Deddy Corbuzier.

Dan kini, kisah Mukhlis menjadi sorotan sebuah media asing, Asia One.

Namanya bahkan muncul dalam headline media tersebut.

Dalam media tersebut, disebutkan bahwa kisah Mukhlis yang menginspirasi ini sangat viral di Indonesia, negara dengan 260 juta penduduk.

Tak hanya itu, semangat Mukhlis untuk tetap pergi sekolah membawanya bertemu dengan orang nomor satu di Indonesia.

Ya, setelah diliput berbagai media, Mukhlis akhirnya bisa bertemu dengan Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

www.korankiu.com

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Mukhlis harus berjalan merangkak sejauh tiga kilometer untuk pergi ke sekolahnya setiap hari.

Medan yang ditempuh Mukhlis juga tak mudah.

Jalanan yang curam, memanjat tebing dan melewati batuan rela ia lakoni setiap hari.

Selain semangatnya yang menginspirasi, prestasi Adul di sekolah juga patut diacungi jempol.

Adul termasuk siswa yang memiliki nilai paling baik di sekolahnya.

Bahkan ia pernah masuk ke dalam rangking lima besar saat duduk di bangku kelas 1 SD.

Saat pergi ke sekolah, Mukhlis atau yang akrab disapa Adul ini selalu ditemani ibunya.

Dari rumahnya di kaki perbukitan Gunung Walat menuju sekolahnya, Adul harus melintasi jalan setapak yang menurun.

Begitu sebaliknya, pulang sekolah Adul harus melintasi jalan menanjak.

Bila musim hujan tiba, jalanan yang dilintasinya pun sangat licin dan cukup berbahaya bahkan dia harus menyeberangi selokan dengan memanfaatkan jembatan yang terbuat dari anyaman bambu.

Perjalanan naik turun di jalan setapak itu sudah rutin biasa Adul lakukan sejak dirinya duduk di bangku sekolah.

Sebelumnya, saat awal masuk kelas 1 hingga kelas 2, Adul harus digendong ibunya untuk pergi ke sekolah.

Setelah masuk kelas 3, Adul mulai terbiasa berjalan sendiri.

Saat pergi ke sekolah, Mukhlis atau yang akrab disapa Adul ini selalu ditemani ibunya.

Dari rumahnya di kaki perbukitan Gunung Walat menuju sekolahnya, Adul harus melintasi jalan setapak yang menurun.

Begitu sebaliknya, pulang sekolah Adul harus melintasi jalan menanjak.

Bila musim hujan tiba, jalanan yang dilintasinya pun sangat licin dan cukup berbahaya bahkan dia harus menyeberangi selokan dengan memanfaatkan jembatan yang terbuat dari anyaman bambu.

Baca Juga : Viral di Medsos, Kisah Driver Ojol yang Berhasil Gagalkan Rencana Bunuh Diri Seorang Wanita Hanya dengan Cara Ini

Perjalanan naik turun di jalan setapak itu sudah rutin biasa Adul lakukan sejak dirinya duduk di bangku sekolah.

Sebelumnya, saat awal masuk kelas 1 hingga kelas 2, Adul harus digendong ibunya untuk pergi ke sekolah.

Setelah masuk kelas 3, Adul mulai terbiasa berjalan sendiri.

Namun, perjalanan sekolah itu memang tidak dilakukan dengan terus berjalan kaki.

Setelah mencapai jalan desa, Adul bisa menumpang ojek sekitar 1 kilometer dengan ongkos Rp7.000 sekali jalan.

"Kalau ada uangnya kami pakai ojek. Tapi kalau enggak ada uang ya terpaksa berjalan kaki sampai sekolah begitu juga pulangnya," ungkap Pipin, ibunda Adul seperti dilansir dari Kompas.com.

Namun, perjalanan sekolah itu memang tidak dilakukan dengan terus berjalan kaki.

Setelah mencapai jalan desa, Adul bisa menumpang ojek sekitar 1 kilometer dengan ongkos Rp7.000 sekali jalan.

"Kalau ada uangnya kami pakai ojek. Tapi kalau enggak ada uang ya terpaksa berjalan kaki sampai sekolah begitu juga pulangnya," ungkap Pipin, ibunda Adul seperti dilansir dari Kompas.com.