Chat with us, powered by LiveChat

About Me

header ads

Cerita Pimpinan OPM soal Percakapan Rahasia dengan JF Kennedy

www.korankiu.com

JAKARTA - Nicolaas Jouwe yang sejak era 1960-an berjuang memerdekakan Papua Barat dari Indonesia -- yang kemudian berbalik arah mendukung Merah Putih-- memang sudah tutup usia. Namun sebelum meninggal dunia, dia sempat mengungkap percakapan rahasianya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) John F Kennedy soal Papua.

"Presiden Kennedy, selama 50 tahun saya tidak akan membuka apa yang kita bicarakan ini," kata Nicolaas kepada Kennedy, sebagaimana dia ceritakan dalam bukunya, 'Kembali ke Indonesia: Langkah, Pemikiran, dan Keinginan'.

Buku ini dia tulis usai dirinya berubah sikap dari yang tadinya mendukung Papua Merdeka menjadi mendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dia bahkan membatalkan sumpahnya untuk tak lagi menginjakkan kaki di Papua yang telah dikuasai Indonesia, dengan cara mencium Bumi Cenderawasih pada 22 Maret 2009, saat usianya menginjak 85 tahun. Dia meninggal dunia pada 2017 lalu. Adapun buku yang memuat curhat rahasia dengan JF Kennedy itu terbit tahun 2013.

Pertemuan dengan Kennedy itu bakal membuat Jouwe goyah dalam berjuang memerdekakan Papua dari Indonesia. Namun kegundahan itu dia simpan hingga setengah abad, sampai dia memutuskan untuk pulang ke Tanah Air.

Pertemuan ini sangat -sangat rahasia, karena pada tahun itu Nicolaas masih menjadi Penasihat dan Anggota Kerajaan Belanda dan dipercaya 100% menjalankan politik Kerajaan Belanda dalam Perundingan Belanda-Indonesia. Bila saja saat itu ada yang tahu dirinya menemui Kennedy, maka risikonya dia dicap sebagai pengkhianat oleh Negeri Kincir Angin itu.

"Secara sembunyi-sembunyi saya datang berbicara dengan Kennedy," kata Nicolaas. Pertemuan digelar pada 16 September 1962 sesudah Perjanjian New York yang dilakukan pihak Belanda dengan Indonesia pada 15 Agustus 1962.

www.korankiu.com

Sebenarnya ada tiga orang yang menjadi calon Papua untuk ditemui Kennedy, yakni Frans Kasiepo seorang pro-Indonesia, anak muda Papua didikan AS bernama Herman Wonsur, dan Nicolaas sendiri. Dari ketiga orang itu, ternyata Nicolaas yang dipilih Duta Besar AS untuk dipertemukan dengan Kennedy langsung, soalnya Nicolaas merupakan penasihat Belanda. Dia ingat betul hal pertama yang ditanyakan Kennedy, yakni soal sejarah Papua dan sejarah kolonial Belanda di Papua.

"Saya mengatakan bahwa kami sendiri tidak tahu-menahu tentang sejarah bangsa kami sendiri. Tetapi kalau mengenai Belanda kami tahu banyak," kata Nicolaas meneritakan soal jawabannya untuk Kennedy saat itu.

Nicolaas memang didikan Belanda. Dia merupakan satu dari segelintir elite terpelajar Papua yang muncul di pertengahan Abad 20. Namun pendidikan yang diterimanya tak mengajarkan soal tanahnya sendiri, melainkan tanah sang pendidik. Dia lebih tahu soal Negeri Belanda ketimbang Papua. Dia hafal soal sungai-sungai dan gunung di Belanda, namun cuma tahu soal satu gunung di Papua yakni Gunung Cartenz. Itu saja yang dia tahu soal Papua.

"Presiden Kennedy mengatakan bahwa itu adalah politik kolonial Belanda," lanjutnya.

Belanda sengaja mengasingkan orang Papua dari dirinya sendiri, menceraikan orang Papua dari tanahnya sendiri. Gunanya untuk menjaga Papua dari siapapun pihak yang ingin mengeksplorasi kekayaan pulau ini, kecuali pihak kolonial Belanda. Ini karena Papua terlalu berharga untuk dibagi ke pihak lain, bahkan untuk putra-putri Papua sendiri.

"Beliau tahu kenapa Belanda berbuat demikian. Belanda tahu sangat baik bahwa Papua adalah pulau yang sangat kaya akan emas, perak, dan tembaga. Belanda tidak mau orang dari luar masuk ke situ," kata Nicolaas.

Untuk orang luar, Belanda membuat propaganda yang berisi citra bahwa Papua adalah pulau berbahaya, dipenuhi banyak penyakit berbahaya seperti malaria. Siapapun yang datang ke Papua pasti bakal meregang nyawa. Akibatnya, relatif jarang orang biasa yang mengunjungi Papua. Namun semua itu berubah sejak Sukarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejak saat itu, Papua muncul ke permukaan dan menjadi rebutan pelbagai pihak.

Perbincangan semakin hangat, Kennedy mulai bertanya perkara pribadi. Maklum saja, ini adalah kali pertama dalam hidup Kennedy bertemu dengan orang asli Papua. Dia gunakan kesempatan ini untuk bertanya apa saja. Namun kali ini, pertanyaan Kennedy membuat Nicolaas sedih.

"Presiden Kennedy menanyakan bagaimana keadaan orang tua saya. Pada saat beliau menanyakan itu saya katakan sambil berlinang air mata," kata Nicolaas.

Dia menjawab, orang tuanya masih sehat dan tinggal di Papua. Meski Nicolaas merupakan pejabat Kerajaan Belanda yang melanglang buana sampai bicara dengan pemimpin negara pemenang Perang Dunia II, namun kedua orang tua Nicolaas masih buta huruf dan hidup sangat tradisional. Nicolaas adalah anak pertama dari keluarganya yang bisa baca-tulis. Dia berpikir, sia-sia saja menjelaskan pertemuan dengan Kennedy ini ke orang tuanya sendiri, soalnya orang tuanya tak tahu siapa itu Kennedy.

"Lalu saya lanjutkan bahwa saat bom atom meletus pada 6 Agustus 1945 di Hiroshima, pada hari itu sejarah telah meloncatkan kami orang Papua dari zaman batu ke zaman atom," tuturnya. "Saya dari sini (AS) pulang ke kampung. Saya pergi ke orang tua saya, tuan Presiden tahu saya membawa apa kepada orang tua saya? Buat Bapa dan Mama saya, saya akan bawa bukan shag tobacco (tembakau untuk dilinting), atau cigarette, tetapi saya bawa sirih-pinang yang saya beli di Pasar Hollandia (nama lawas Jayapura)."

Wakil Presiden Dewan Nugini (Nederland Nieuw Guinea Raad) ini mengaku harus melintasi batas peradaban bila pulang menemui orang tuanya sendiri. Dia harus kembali turun ke zaman batu, saking kontrasnya kehidupan orang Papua saat itu. Nicolaas ingin semua itu berubah ke arah yang lebih baik.

Di akhir perbincangan, Kennedy menyampaikan niatnya untuk berkunjung ke Indonesia sembari mempertemukan Nicolaas ke hadapan Presiden Sukarno. Nicolaas yang saat itu nampak sebagai musuh paling nyata di mata Sukarno, akan diperkenalkan oleh Kennedy sebagai Nicolaas yang pro-Indonesia. Itu bakal menjadi hadiah yang paling menggembirakan untuk Sukarno. Sedianya, Kennedy akan berkunjung ke Indonesia pada setahun setelah pertemuannya dengan Nicolaas saat itu.

"Sayang sekali beliau sudah terbunuh di tanggal 22 November 1963," kata Nicolaas.

Kennedy-pun tak bisa lagi dimintai konfirmasi soal kebenaran kisah ini. Namun yang jelas, Perjanjian New York tahun 15 Agustus 1962 memang ada dan merupakan peristiwa yang penting dalam sejarah Indonesia. Perjanjian itu dimakelari oleh AS, perwakilannya adalah diplomat Ellsworth Bunker. Dari pihak Belanda diwakili oleh Van Roijen. Indonesia diwakili oleh Ketua Delegasi RI Adam Malik Batubara. Hasil perjanjian itu, Papua diserahkan dari Belanda ke Indonesia lewat perantara lembaga PBB bernama UNTEA (Otoritas Eksekutif Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa/United Nations Temporary Executive Authority).

www.korankiu.com

Tak lama setelah Perjanjian New York itu, Nicolaas lebih memilih untuk meninggalkan Papua dan bermukin di Belanda. Dia menjadi salah satu sosok pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di perantauan. OPM sendiri merupakan istilah yang mulai sering digunakan sejak 1965, untuk menunjuk kelompok separatisme yang ingin memerdekakan Papua dari Indonesia. Namun pada 2009, Nicolaas kembali ke Tanah Air dan menjadi Warga Negara Indonesia.