Fadli Zon Enggan Minta Maaf Soal Puisinya, Mahfud MD: Pantas Tidak Dipilih Sebagai Wakil Rakyat?

WWW.KORANKIU.COM

HARIAN TERKINI ``Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon hingga kini masih enggan menyampaikan permohonan maafnya kepada Kiai Maimun Zubair atau Mbah Moen.

Puisi Fadli Zon yang berjudul 'Doa yang Ditukar' belakangan menjadi polemik dan dinilai telah menyindir Ketua Majelis Syariah PPP, Mbah Moen.

Dalam puisi yang ditulis di Parung, Bogor itu, Fadli Zon menyinggung soal doa yang sakral, agama yang diobral hingga kepemimpinan.

Doa sakral, seenaknya kau begal, disulam tambal, tak punya moral, agama diobral," demikian bunyi bait pertama pada puisi Fadli Zon itu.

Puisi tersebut dituliskan Fadli Zon dalam sebuah akun twitternya yakni @falizon pada Minggu (3/2/2019) pukul 01.25 WIB.

Berkat tulisannya tersebut pun ramai di komentari oleh warganet termasuk beberapa tokoh Nasional.

Belakangan, mantan Ketua MK Mahfud MD pun ikut merespon puisi yang dibuat oleh Fadli Zon itu.

Menurut Mahfud, yang berhak mengadili puisi "Doa yang Ditukar" karya Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon adalah Dewan Etik DPR alias Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI.

Mahfud mengatakan, bila mereka yang merasa keberatan dan tersinggung dengan puisi Fadli Zon untuk membawanya ke ranah Dewan Etik.

Sebab hingga kini, belum ada orang atau pihak yang mengajukan pengaduan tersebut kepada Dewan Etik DPR.

"Tapi mau diadili oleh Dewan Etik. Tapi kan harus ada yang ngadu. Kalau ada yang mengadu silakan saja," kata Mahfud MD di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019) dikutip dari majalah POKER88.

Menurut Mahfud, jika dilihat dari sisi hukum puisi "Doa yang Ditukar" karya Fadli Zon tidak ada yang salah.

Sebab di dalam bait-bait puisinya, Fadli Zon tidak menyebutkan jelas subjek yang ia hina.

Bahkan, Fadli Zon tidak menyebut nama Kyai Maimun, melainkan hanya menggunakan kata "Kau".

"Secara hukum tidak salah karena tidak sebut subjek yang dia hina. Tidak sebut kyai Maimun," kata Mahfud saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019).

Namun, menurut Mahfud masyarakat sudah paham siapa yang dimaksud oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Bila dipandang secara hukum tak ada yang salah, tapi secara etika bisa saja disebut sebagai penistaan.
Untuk itu Mahfud meminta masyarakat menyikapi puisi karya Fadli Zon itu dalam pandangan politik.

"Hukum tidak bisa tapi etik disebut penistaan. Maka sikapi secara politik saja. Orang ini pantas tidak dipilih sebagai wakil rakyat?," tanya Mahfud.

Mahfud MD melanjutkan, puisi karangan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra itu dianggap tidak sopan karena menyinggung Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, KH Maimun Zubair atau karib disapa Mbah Moen.

"Itu tidak sopan. Etik disebut penistaan," katanya.

Pria yang menjabat sebagai Ketua MK periode 2008-2013 itu juga menyebut publik maupun pihak yang merasa dirugikan tidak bisa menuntut Fadli untuk minta maaf.
Sebab urusan permintaan maaf merupakan kesadaran dari seseorang.

"Tidak bisa. Itu kesadaran dia. Secara hukum tidak sebut (nama), karena sebut kau. Orang lain sebut Maimun, tapi dia sebut kau, (makna) kau itu kan banyak," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, puisi berjudul 'Doa yang Ditukar' karya Wakil ketua Umum Gerindra Fadli Zon mendapatkan protes sejumlah pihak, satu di antaranya Majelis Ulama Indonesia Kota Sukabumi dan sejumlah santri di Jawa Tengah.

Mereka protes dan meminta Fadli meminta maaf karena menilai Puisi itu telah menghina ulama Maimoen Zubair atau yang karib disapa Mbah Moen.

Sejumlah kalangan santri menuntut Fadli Zon untuk meminta maaf lantaran puisi 'Doa yang Tertukar' yang dibuatnya dinilai telah menyindir Mbah Moen.

Namun, Fadli Zon enggan meminta maaf karena tidak merasa kalau puisi yang ditulisnya itu ditujukan untuk Mbah Moen.

Fadli Zon mengaku sangat menghormati Mbah Moen sebagai ulama. Fadli Zon lantas meminta agar puisi 'Doa yang Tertukar' tidak dipolitisasi.

Menag Minta Klarifikasi Fadli Zon

Salah satunya yang menjadi perhatian adalah ketika di komentari oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin yang langsung menanyakan siapakah sosok 'kau' pada puisi.

Menag Lukman pun terang-terangan menanyakan sosok 'kau' pada puisi Fadli Zon adalah Kiai Maimoen Zubair?

"Pak @fadlizon Yth."

Agar mendapatkan kejelasan, saya mohon tabayyun (klarifikasi):

apakah yg dimaksud dengan 'kau' pada puisi tsb adalah Simbah Kiai Maimoen Zubaer? #doayangditukar," tulis Menag Lukman.

Fadli Zon yang juga merupakan politisi partai Gerindra tersebut langsung memberikan klarifikasi.

Fadli Zon menjawab pertanyaan dari Lukman tersebut dengan mengatakan jika Sosok kau itu adalah makelar Doa.

"Pak Lukman yb, jelas sekali bukan.

Itu itu penguasa n makelar doa." jawab Fadli Zon atas pertanyaan menteri agama tersebut.

Jawaban Fadli Zon itu pun kembali dibalas oleh Menag Lukman.

Alhamdulillah.."

"Terima kasih sekali atas penjelasannya..," tulis Lukman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar