Prabowo Ancam Pemerintah, Jangan Buka Tragedi 98 Lagi Karena Kasus Sudah Berlalu!!

 korankiu.com



AGEN POKER TERBAIK 

Prabowo, calon Presiden pada pemilihan 2019, selalu dipandang sebagai sosok yang kontroversial, khususnya jika terkait dengan kasus penculikan aktivis tahun 1998.

Namun pertanyaan-pertanyaan mengenai korban penculikan 1998 masih belum terjawab. Kalau meninggal, di mana makamnya? Kalau hidup, di mana mereka? Bagaimana dengan yang belum ketemu? Siapa yang paling bertanggung-jawab? Prabowo? Benarkah markas besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang saat itu dipimpin Jendral Feisal Tanjung dan KSAD Jendral Wiranto tidak tahu menahu soal itu? Benarkah perintah “mengamankan” aktivis datang dari Soeharto?

Kasus-kasus masa silam itu, yang ternyata masih menghantui Prabowo hingga kini. Kontroversi tersebut juga menjadi kelemahan terbesar yang membuatnya kalah dalam pemilihan Presiden 2014.

Sejak itu Prabowo memilih tidak pernah berkomentar terhadap pemerintahan Joko Widodo. Itu adalah salah satu hal yang patut dipuji dari Prabowo, bahwa dia tidak pernah mengatakan hal negatif tentang Presiden Joko Widodo setelah kalah dalam Pemilu.

Sejauh ini Prabowo telah ikut serta dalam kancah pemilihan umum sebanyak tiga kali.

Pertama pada Pilpres 2004, di mana Prabowo berakhir kalah suara dari Wiranto dalam konvensi capres Partai Golkar 2004. Kedua, menjadi calon wakil presiden Megawati dalam Pilpres 2009. Dan terakhir, menjadi capres, dengan cawapres Hatta Rajasa pada Pilpres 2014.

Dan pada setiap pilpres itu, isu dugaan pelanggaran HAM di masa lalu Prabowo, kerap diangkat.
Dalam wawancara dengan BBC jelang Pilpres 2014 silam, Prabowo menegaskan "isu yang telah berkembang selama 16 tahun terakhir itu... merupakan bagian dari permainan politik".

Walupun begitu, Djayadi Hanan, menilai isu itu tidak akan menjadi batu sandungan lagi, seandainya Prabowo melaju di Pilpres 2019.

"Karena rekam jejak Prabowo sudah terekam sangat baik pada publik. Hasil ingatan itu tercermin dari berapa besar dukungan publik kepada Prabowo yang sekarang ini bisa kita lihat."
Djayadi menyebut, jika ada lagi yang mengangkat isu-isu itu, pengaruhnya sebatas "hanya mengkonfirmasi dukungan yang sudah ada saja."

Menurut Direktur LSI, Dodi Ambardi, batu sandungan terberat yang harus dihadapi Prabowo adalah fakta bahwa dia akan bersaing melawan petahana, yang kerjanya selama memerintah Indonesia 'tidak dinilai buruk'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar