Menggelikan, Dalam Sebulan Sandiaga Meroket Dari Santri Pos-Islamisme Jadi Ulama

 emaspk1.com

AGEN POKER TERBAIK

Ternyata politik tidak lepas dari momen-momen lucu nan menghibur. Tahun 2014 banyak kekocakan, dan sekarang tidak jauh beda. Sejak Pilkada DKI tahun lalu, kata 'ulama' seolah menjadi tren dan tidak bisa lepas dari politik. Kubu sebelah juga sempat menyelenggarakan ijtima ulama untuk menentukan sosok capres dan cawapres. Sosok capres adalah Prabowo. Sedangkan ada dua nama ulama rekomendasi Ijtima, yakni Ustaz Abdul Somad dan Ustaz Salim Segaf Al Jufri dari PKS.

Dengan pedenya mereka bilang rekomendasi ini harus dipatuhi karena itu keinginan Tuhan. Secara halus ini adalah warning buat koalisi Prabowo kalau mau didukung oleh mereka. Kalau tidak patuh ya tidak jamin bakal didukung. Rupanya last minute, Sandiaga Uno yang menjadi pedamping Prabowo. Kita sudah tahu persis faktor X yang membuat Sandiaga terpilih. Faktor X yang membuat semua orang ngiler, bro.

Dan kelucuan pun terjadi. Kita tahu Sandiaga adalah seorang pengusaha. Label dan status itu sudah melekat saat mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur DKI Jakarta. Tapi setelah mencalonkan diri menjadi calon wakil presiden, statusnya jadi meroket drastis. Hahaha.

Ini gara-gara Jokowi yang memilih Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden. Banyak yang menyindir kubu sebelah, di mana Jokowi pilih ulama, sedangkan kubu Prabowo tak mematuhi rekomendasi ijtima ulama dan malah pilih Sandiaga. Sebuah sindiran telak yang membuat mereka kepanasan sehingga mereka pun bertahan dengan melakukan manuver konyol.

Pada awalnya Sandiaga dikenal sebagai pengusaha yang masuk ke arena politik lewat Partai Gerindra. Mungkin untuk menangkal rasa malu, Presiden PKS Sohibul Iman menyatakan pasangan Prabowo-Sandi sebagai perwujudan nasionalis-Islam. Sosok Sandi dinilainya juga sebagai santri, meskipun orang lain tak berkata demikian.

"Mungkin beliau (Sandiaga) dalam kaca mata kita selama ini tidak terkategori sebagai santri," kata Sohibul. Sejak saat itu, Sandi kemudian dikenal sebagai santri. Sandi bukan sembarang santri, namun dia adalah santri pos-Islamisme, begitulah gelar yang disematkan Sohibul ke Sandi.

"Saya kira beliau seseorang yang memang hidup di alam moderen, tetapi beliau mengalami proses spiritiualisasi dan Islamisasi, sehingga saya bisa mengatakan saudara Sandi adalah merupakan sosok santri di era pos-Islamisme. Dia benar-benar menjadi contoh pemimpin muslim yang kompatibel dengan perkembangan zaman," kata Sohibul.

Hihihi, apa kata dia aja lah. Ternyata Sandiaga itu sakti. Berkat faktor X, dia bisa mendapat gelar santri meskipun terlihat jelas sangat dipaksakan dan dadakan atau lebih tepatnya musiman karena sedang musim pilpres. Hahaha. Dengan melihat latar belakang pendidikannya, Sandi seperti dipaksa menjadi santri meski sama sekali bukan santri. Maklum, kubu sebelah jago bikin kelucuan.

Setelah ijtima ulama, baru-baru ini GNPF Ulama kembali menggelar Ijtimak Ulama II. Hasilnya, Ijtimak mendukung Prabowo-Sandi. Nah, kan jadi terbalik. Katanya rekomendasi sebelumnya harus dipatuhi. Sekarang jadi lain lagi ceritanya. GNPF paham kalau Prabowo tak memilih ulama menjadi cawapresnya untuk menghindari perpecahan umat. PKS tak sepakat bila dikatakan pilihan cawapres dari ulama atau bukan bisa memecah umat.

Lewat respons PKS inilah, Sandi naik statusnya yang semula dari santri menjadi ulama. Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid adalah orang yang menyebut Sandi sebagai ulama. Jadi ingat baik-baik, gelar santri post-Islamisme dan ulama diberikan kepada Sandiaga oleh dua orang dari PKS.

Hidayat menjelaskan pengertian ulama mengacu pada dua surat, sehingga menurutnya Sandiaga Uno juga seorang ulama. Keulamaan itu ditunjukkan Sandiaga dalam perilakunya. "Menurut saya sih Pak Sandi itu ya ulama, dari kacamata tadi. Perilakunya, ya perilaku yang juga sangat ulama, beliau melaksanakan ajaran agama, beliau puasa Senin-Kamis, salat duha, salat malam, silaturahim, menghormati orang-orang yang tua, menghormati semuanya, berakhlak yang baik, berbisnis yang baik, itu juga satu pendekatan yang sangat ulama. Bahwa kemudian beliau tidak bertitel 'KH' karena memang beliau tidak belajar di komunitas tradisional keulamaan," kata Hidayat.

Benar-benar speechless. Hanya dalam sebulan, Sandiaga naik statusnya dengan sangat signifikan. Cepatnya bukan main. Dari santri menjadi ulama hanya dalam waktu kurang lebih sebulan. Lalu status pengusaha? Hahaha, jelas sekali mereka tak bisa menjual itu. Mereka menunjukkan kalau label ulama lebih menjual, bukan? Sandiaga yang lebih dikenal sebagai pengusaha dipaksa jadi sosok dadakan. Ini mungkin musiman saja, seusai pilpres, status ini bakal hilang kok. Besok-besok entah apa lagi status yang akan disematkan kepada Sandiaga? Imam Besar mungkin.

Bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar