Fatwa Haram Non muhrim Ngopi Semeja Yang Dikeluarkan Oleh Bupati Bireuen Aceh Berbuntut Panjang, Rakyat Aceh Marah

 emaspk1.com

AGEN POKER TERBAIK
Kebijakan Pemkab Bireuen yang mengeluarkan standarisasi warung kopi/kafe dan restauran yang sesuai Syariat Islam ditanggapi beragam oleh warganet di dunia maya.

Salah satunya Anggota DPRA dari Fraksi Partai Aceh, Kautsar M Yus. Ia menilai kebijakan itu telah membatasi ruang gerak perempuan di ranah publik.

Poin yang disorot dalam aturan itu ada pada aturan nomor 7 yang berbunyi: dilarang melayani pelanggan wanita di atas pukul 21.00 WIB, kecuali bersama mahramnya.

Selanjutnya pada aturan nomor 13 yang berbunyi: haram hukumnya laki-laki dan perempuan makan dan minum satu meja kecuali dengan mahramnya
"Ini peraturan yang membatasi ruang gerak perempuan di ranah publik, yang dikeluarkan oleh bupati dari Partai Golkar di Kabupaten Bireuen," tulis Kautsar di akun twitternya sebagaimana dikutip Serambinews.com, Rabu (5/8/2018).

Sebagai wakil rakyat di DPRA dari daerah pemilihan (dapil) Bireuen, Kautsar mengaku malu atas kebijakan Bupati Bireuen yang ia nilai tak masuk akal ini.

"Sebagai wakil rakyat dari Bireuen, saya malu, kok Kabupaten Bireuen yang kosmopolit kini menjadi jumud dan kolot karena peraturan yang tak masuk akal ini," tulis Kautsar lagi.

Akun lainnya @Nasroel_Pm, juga mengharapkan agar aturan bupati tersebut dikaji ulang. "Saya berharap aturan itu dikaji ulang, atau minimal beberapa poin dikaji ulang," tulisnya.

Namun ada juga yang mendukung kebijakan bupati. Mayzura Ghassani dalam twitt balasannya kepada Raisa Kamila, mengatakan jika opininya berbeda.

"Mnrtku aturan tsb gak bs dinyinyiri jg krn tujuannya menghindari fitnah. Kalau gak sesuai dng kebiasaan kita di tmpt lain, bukan berarti itu salah," demikian Mayzura.

sumber: tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar