Kalau Kamu Cinta NKRI, Kamu Harus Tolak Gerakan Makar #2019GantiPresiden, Sarang Baru HTI


 korankiu.net

AGEN POKER TERBAIK 
NKRI harga mati. Itulah semboyan seorang Indonesia sejati. Apa pun agamanya, apa pun etnis dan sukunya, apa pun latar belakang pendidikannya, serta berapa pun hartanya, selama masih mencintai NKRI, semboyan itu tidak akan pernah padam dalam hatinya.

Akhir-akhir ini negara ini gaduh karena gerakan makar tagar 2019 ganti presiden. mereka mau ganti presiden, tetapi tidak ada calonnya. Nama Prabowo, sebagai rival politik Jokowi di Pilpres 2019, tidak pernah disebut, didukung dan dideklarasikan. Mereka hanya memanfaatkan momentum Pilpres untuk memprovokasi dan menghasut rakyat.
Awal munculnya memang gerakan makar ini hanya sekedar gerakan gerombolan orang yang tidak mengkritik pemerintah. Sebagai gerakan politik, dalam demokrasi, menyampaikan pendapat dan aspirasi adalah hak setiap orang. Akan tetapi lama-kelamaan, gerakan makar ini semakin menghawatirkan. Mereka tidak lagi menyatakan pendapat, menyampaikan aspirasi sebagai rakyat Indonesia.hindari memilki pemahaman yang bisa memecah belah bangsa


Mereka tidak lebih dari gerombolan orang yang membenci pemerintah dan presiden. Setiap orasinya dihiasi kebencian kepada pemerintah. Mereka menghasut rakyat dengan kedok kepedulian. Bahkan mengidentikkan Pilpres dengan perang uhud. Padahal isi orasinya tidak sesuai dengan kenyataan, bahkan lebih tepat dikatakan fitnah.Poker88

Belakangan baru kita tahu bahwa sebenarnya gerakan ini adalah gerakan politik HTI. HTI ingin mengganti sistem negara ini dari demokrasi menjadi khilafah. Ini bukan tuduhan. Ini bukan fitnah. Video Mardani Ali Sera bersama dengan juru bicara HTI adalah bukti tak terbantahkan soal ini. Kemudian dalam setiap spanduk gerakan makar 2019 ganti presiden sering kali dicantumkan lambang HTI dan tulisan ganti sistem, Indonesia bersyariah, dan khilafah.

Tidak salah kemudian kalau kita menilai bahwa gerakan makar 2019 ganti presiden tidak lain tidak bukan adalah wadah baru HTI. Maka jangan heran kalau mereka memprovokasi sana-sini. Mereka memancing kemarahan sesama anak bangsa agar saling bentrok. Mereka tidak akan berhenti sampai Indonesia ini kacau.

Kalau ditolak warga, mereka menuduh pemerintah represif, entah apa hubungannya. Kalau ditekan, mereka bersembunyi di balik kebebasan menyatakan aspirasi dan pendapat. Pada saat yang sama mereka merasa terzolimi. Lalu menuduh pemerintah memberangus kebebasan rakyatnya sendiri.

Pada intinya mereka sedang membangun persepsi bahwa negara ini sedang sakit karena sistem demokrasinya. Mereka mau menunjukkan bahwa demokrasi bukanlah sistem terbaik dalam suatu negara. Kemudian mereka akan menawarkan sistem baru, yaitu khilafah. Saat itu terjadi, genderang perang akan semakin ditabuh menderu.
Membiarkan mereka berarti kita membiarkan rakyat diprovokasi dan dihasut untuk membenci pemerintah dan presiden. Siapa pun presidennya akan tetap diperlakukan seperti itu sejauh tidak mau menuruti kemauan mereka. Dan kita tidak mungkin mencegah rakyat agar tidak terprovokasi. Sudah terbukti tidak sedikit orang yang dicuci otaknya untuk melakukan bom bunuh diri dan berperang bersama ISIS. Berapa jumlah mahasiswa yang mengucapkan sumpah demi khilafah, tidak sedikit. Itu adalah contoh nyata.

Mau tidak mau kita harus menolak dengan cara kita masing-masing. Sudah terbukti bahwa yang cinta NKRI jauh lebih banyak dari pada mereka yang memimpikan khilafahnya HTI. Memang akan ada harga yang harus kita bayar. Kita akan kembali gaduh. Kita akan kembali meributkan soal ini. Tetapi adalah lebih baik kita melawan dari pada menyerah begitu saja.

Sudah lebih mudah sekarang melawan mereka ketika HTI secara resmi dibubarkan. Ada alasan untuk menolak tanpa dianggap menista agama dan mencederai demokrasi. Melawan HTI tidak bertentangan dengan undang-undang. Melawan HTI sama dengan menyelamatkan NKRI, sama dengan menyelamatkan ketenteraman hidup yang sudah kita nikmati saat ini, sama dengan menjaga amanah para pendiri bangsa, sama dengan menghormati persetujuan bersama pada pendiri bangsa ini.

Ini bukan lagi soal Prabowo atau Jokowi. Ini tentang NKRI. Silakan Prabowo membuka tangan lebar-lebar untuk HTI dan antek-anteknya. Bukan demikian dengan Jokowi dan para pendukungnya. Sekali pendukung Jokowi katakan ‘tidak’ pada HTI, selamanya akan tetap ‘tidak’ pada HTI. Bila perlu, pulangkan mereka ke tempat asal HTI – kalau masih diterima di sana.

Sudah terlalu lama kita diam. Sudah terlampau sabar kita menanti mereka bertobat. Saatnya sekarang untuk bangun dan berjuang. Demi NKRI yang kita cintai ini, darah pun akan ditumpahkan, nyawa pun akan dikorbankan.

Masak ada tamu obrak-abrik rumah kita, kita malah diam saja? Tidak ada kata lain selain lawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar