Terduga Teroris di Bantul Jogjakarta, Benarkah Anggota FPI ?



 emaspkr.com

AGEN POKER TERBAIK

Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menggerebek dan menangkap pedagang bakso berinisial M (40) di rumahnya di RT 8 Dusun Mrisi, Desa Tirtoniromolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul , Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (11/7/2018).Poker88

Terduga teroris berinisial M yang ditangkap Densus 88 di rumahnya, berdasarkan kesaksian ketua Rt, ternyata anggota FPI.

“Tahunya di ikut FPI, pernah ikut demo-demo di Jakarta. Dia pernah cerita kepada saya,” ujar Ketua RT 8 Dusun Mrisi Endiyo. Kamis, (12/7/2018).

Endiyo menjelaskan, M dulu sering ke masjid untuk salat berjemaah. Namun, belakangan M diketahui meminta istrinya memakai cadar dan jarang salat di masjid.

“Istrinya juga jarang keluar. Kalau belanja, mereka menyuruh anaknya. Semua tertutup,” tambahnya.

Menurutnya, perilaku M berubah ketika lelaki itu berkeluarga. Semua serba tertutup, bahkan terbilang jarang besosialisasi dengan warga setempat.

Endiyo juga menjelaskan, terduga pelaku teroris itu sebelumnya juga pernah masuk penjara karena melakukan kejahatan merampas ponsel.

“M pernah masuk penjara selama 2 tahun, kasus kriminal, semua warga tahu. Soalnya M itu sejak lahir dan besar memang di dusun ini,” terangnya.

Sebelumnya diberitakan, M ditangkap Densus 88 Antiteror Polri, Rabu (11/7/2018) sekitar pukul 08.00 WIB. Densus 88 juga menyita sebilah pedang dari kediaman M.

Beberapa tahun lalu, penangkapan terduga teroris yang terindikasi merupakan anggota FPI juga pernah terjadi.

Pada tahun 2010, anggota Front Pembela Islam (FPI) Mukhtar didakwa terlibat aksi terorisme di Nanggroe Aceh Darusalam. Muchtar dijerat dengan sejumlah pasal UU Terorisme dengan ancaman hukuman mati.

Mukhtar didakwa telah melakukan pelemparan granat di kantor Unicef. Dia juga didakwa melakukan penembakan terhadap ketua Palang Merah Jerman di Banda Aceh, Erhard Bauer.

Kebenaran berita ini termuat dalam Republika, bahwa 2 dari 23 teroris Aceh yang disidangkan dipastikan adalah anggota FPI. Ketua bantuan hukum FPI, Sugito Atmo Prawiro, juga membenarkan hal tersebut.

"Munir alias Abu Rimba dan Muktar anggota laskar FPI di Aceh," kata Sugito saat ditemui Republika usai persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Barat pada Kamis (25/8).

Mereka didakwa dengan tuduhan terlibat pelatihan militer di Pegunungan Jalin, Aceh pada Februari lalu. Alasan terdakwa yang dikemukakan antara lain keberadaan LSM asing menjadi salah satu penyebab terhalangnya penegakkan syariat Islam di Aceh. Mereka beranggapan LSM Asing telah melakukan serangan budaya, pemahaman kapitalis, dan menjadikan Aceh sebagai daerah sekuler.

Sugito mengatakan, peran keduanya berbeda. "Muktar telah melakukan tindakan terorisme," katanya. Sedangkan Abu Rimba masih terlibat dalam perencanaan saja. Menurutnya, hal tersebut membuat dakwaan terhadap keduanya berbeda dan sidang dipisah.

Kemudian di tahun 2016, Chandra yang ditangkap anggota Detasemen Khusus 88 Atiteror, bersama Andri alias Awi, di Luwu benar pernah menjadi anggota Front Pembela Islam.

Densus 88 Antiteror bersama Polres Luwu meringkus dua terduga teroris pada Senin (25/1/2016).

Ketua FPI Makassar , Agussalam membantah terduga teroris Chandra adalah Ketua

FPI Belopa seperti banyak diberitakan setelah ia ditangkap.

"Dia itu bukan Ketua FPI, dia tak pernah menjadi ketua dan sudah lama keluar dari FPI," kata Agussalam saat dihubungi Tribun Timur.

Agussalam mengakui Candra memang pernah bergabung ke FPI namun keluar karena berbeda gerakan dengan organisasi ini.

"Dia itu memang berbeda pemahaman dengan kita dan tak ada lagi kaitannya dengan FPI," tegas dia.

Informasi penangkapan dua terduga teroris Chandra dan Andri berdasarkan informasi Kabid Humas Polda Sulselbar, Kombes Frans Barung Mangera, melalui pesannya ke awak media.

Ditempat berbeda, pada tahun 2017. Tim Datasemen Khusus Antiteror 88 membekuk tiga terduga teroris di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, pada Jumat pagi, 7 April 2017. Para terduga langsung dibawa ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Informasi awal diperoleh menyebutkan, penangkapan pertama dilakukan terhadap dua terduga teroris, ZA (50 tahun) dan AE, di depan SMP Negeri 1 Paciran Lamongan pada Jumat pagi sekira pukul 09.30 WIB. Saat ditangkap keduanya menunggangi satu sepeda motor.

Polisi lalu bergerak ke Dusun Jetak, Desa/Kecamatan Paciran, kabupaten setempat, dan menangkap pria berinisial ZH, diduga jaringan ZA dan AE. Densus lalu melakukan penggeledahan di rumah ZA dan ZH. Sejumlah barang bukti diamankan, di antaranya senjata tajam, atribut ISIS, dan benda diduga bahan peledak.

Tentang kebenaran berita ini, ternyata diamini pula oleh mantan instruktur bom Jamaah Islamiyah Wakalah Jawa Timur, Ali Fauzi Manzi, mengaku kenal dengan ZA (50 tahun), salah satu terduga teroris yang ditangkap tim Densus 88 di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, pada Jumat, 7 April 2017. ZA pernah bergabung dengan Front Pembela Islam (FPI) lalu bergabung dengan terpidana teroris Aman Abdurrahman.

"Kalau dengan dua terduga teroris lain yang ditangkap Densus 88 saya tidak kenal, tapi yang pernah akrab dengan saya yang pimpinannya, dia adalah ZA. Karena dia dulu satu pesantren dengan saya," kata Ali Fauzi.

Adik bomber Bali, almarhum Amrozi itu mengatakan, ZA mengalami perubahan sejak bergabung dengan Front Pembela Islam atau FPI beberapa tahun lalu. "Dia mengalami perubahan signifikan ketika bersentuhan dengan FPI dan mengundang Habib Rizieq Shihab tablig akbar di Pantura Lamongan," ujarnya.

Bahkan fakta semakin terkuak, ketika Densus Antiteror 88 Mabes Polri menemukan foto Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab di kediaman pimpinan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Zainal Anshori (ZA) yang Jumat (7/4) lalu ditangkap di Lamongan, Jawa Timur.

"Iya ada foto itu dalam penggeledahan di Lamongan, di rumah ZA," ujar Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Pol Rikwanto, Minggu (9/4).

Dalam foto yang dibingkai dengan kayu cokelat itu terlihat Zaenal tengah berfoto dengan Rizieq. Keduanya sama-sama mengenakan baju putih. Zaenal mengenakan peci, sementara Rizieq mengenakan sorban, yang menjadi ciri khasnya.

Habib Rizieq dan Zaenal berfoto dengan posisi duduk bersama dengan latar belakang logo dan tulisan Forum Ukhuwah Islamiyah.

Selain foto itu, Densus juga menyita sebuah baju seragam Front Pembela Islam, tujuh senjata tajam jenis parang, golok, celurit dan sangkur, beberapa dan cakram digital berformat VCD terkait FPI.

Zainal merupakan otak penyerangan terhadap anggota Satlantas Polres Tuban kemarin di mana aparat kepolisian menembak mati 6 orang terduga

teroris .

Berkenaan dengan penangkapan terduga Teroris di Jogjakarta, yang disinyalir merupakan anggota FPI. Kali ini bantahan dilakukan oleh Juru bicara Persaudaraan Alumni 212 yang juga anggota FPI Novel Bamukmin .

Menurut Novel, pihaknya akan melakukan pengecekan anggota terlebih dahulu, untuk memastikan apakah M merupakan anggota FPI atau bukan.

"Wah harus kami cek dulu kebenaran berita itu, karena biasanya ada saja yang mengaku-ngaku anggota FPI," ujar Novel kepada Suara.com , Jumat (13/7/2018).

Novel mengatakan, FPI merupakan organisasi yang sangat mengecam keras segala bentuk tindak terorisme.

Dirinya menjelaskan, ada banyak cara untuk menggemboskan FPI dengan cara tersebut mengingat saat ini adalah tahun politik.

FPI boleh saja membantah dan tidak mengakui terduga Teroris merupakan anggotanya, tapi bagaimana dengan FPI yang dimasukkan ke daftar organisasi teroris dalam sebuah situs peneliti terorisme.

Di situs tersebut juga dituliskan soal FPI yang kerap menyebarkan ujaran kebencian terhadap agama minoritas hingga menyerang tokoh kebebasan beragama.

Situs yang dimaksud ialah Terrorism Research & Analysis Consortium (TRAC). Sehingga hal ini menyebabkan sistem algoritma Instagram mengaitkan foto Rizieq dengan hal yang berkaitan dengan terorisme. Karena itu, foto Amien dengan Rizieq dihapus dari Instagram.

Waktu itu, Admin Instagram @amienraisofficial mengungkapkan kekecewaan atas hilangnya foto-foto tersebut. Admin menyebut hal itu menjadi bukti kebebasan berekspresi yang dicederai.

"IG akhirnya menghapus kembali berkali-berkali secara sepihak semua foto yang kami upload, yang berkaitan dengan tokoh tertentu. Ini bukti bahwa kebebasan berekspresi (yang bertanggung jawab) yang menjadi salahsatu agenda reformasi kembali diciderai; mengembalikan kita pada era yang represif (order baru), di tengah-tengah kebijakan-kebijakan populis yang palsu (order lama). Kita semua menantikan terang setelah zaman-zaman gelap, bukan sebaliknya! Mari #selamatkanindonesia," demikian keterangan di akun @amienraisofficial.

Dihubungi terpisah, pihak Instagram membenarkan posting- an foto di akun itu hilang. Tapi itu bukan kesengajaan dari pihak Instagram.

Pemerintah juga sudah angkat bicara soal hilangnya foto Amien Rais dan Habib Rizieq di Instagram. Pemerintah tidak terlibat sama sekali soal hilangnya foto tersebut.

"Kami tidak meminta IG untuk melakukannya," ujar Menkominfo Rudiantara kepada detikcom, Selasa (5/6).

Bisa saja Novel mengatakan ini fitnah tahun politik, tapi bagaimana dengan beberapa anggota FPI yang terlibat terorisme pada tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa kasus persekusi yang dilakukan oleh FPI, mungkin adalah teror kecil di tengah masyarakat. Demo anarkis mungkin sebuah ajang latihan teror kepada pemerintah dan aparatur negara. FPI memang bisa saja melakukan bantahan, penggiringan opini dengan fitnah menunjuk kambing hitam. Yang jelas bagi kami , setuju dan sangat mendukung kalau FPI dimasukkan sebagai teroris lokal dan dibubarkan !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar