Akhirnya AHY Merasa Kalau Dirinya Seperti Dagangan Yang Dijual Kesana Kemari


 korankiu.com


AGEN POKER TERBAIK

PAda pepatah yang mengatakan lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali. Lebih baik mengetahui sesuatu meskipun terlambat, dibanding tidak mengetahui sesuatu. Pepatah ini tepat untuk menggambarkan kondisi AHY saat ini. AHY terlambat dalam menyadari kondisi yang sedang dialaminya.POKER88

Terkadang, orang luar lebih bisa melihat keadaan, dibanding dirinya sendiri. Orang lain lebih bisa menilai kita itu seperti apa, dibanding kita sendiri. Orang lain lebih bisa menilai AHY itu seperti apa, dibanding AHY sendiri. Ketika orang lain sudah paham kondisi AHY, AHY justru baru menyadari akhir-akhir ini. Tapi tidak apa-apa, lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali..POKER88

Saya kira pembaca seword sudah paham bagaimana SBY memperlakukan anaknya sendiri. SBY tidak memperlaukan AHY sebagaimana seorang ayah memperlakukan anaknya. SBY memperlakukan AHY lebih seperti komoditi, dagangan, dan produk yang dijual kesana kemari, demi memuaskan ambisi politik.

SBY bisa jadi tak pernah bertanya ke AHY sebenarnya ingin jadi apa. SBY mungkin tak pernah bertanya apakah AHY suka ketika diminta keluar dari militer dan bantik setir ke dunia politik. Sebaliknya, AHY terlihat seperti anak yang sangat penurut. Tak sekalipun dia menjelaskan ke ayahnya ingin jadi apa. Dirinya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, hanya tahu bagaimana mengikuti arahan orang tuanya. AHY tipe anak yang sangat berbakti kepada ayahnya. Rela menggadaikan kebahagiaannya demi memenuhi ambisi sang ayah..POKER88

AHY hanya bisa pasrah ditawarkan kesana kemari oleh ayahnya. Pernah ditawarkan ke Jokowi, namun Jokowi tak tertarik untuk membelinya. Pernah juga ditawarkan ke beberapa partai sekaligus membentuk poros baru, tapi juga tidak laku. Sempat ditawarkan ke JK, tapi JK pun menolak dengan halus. Terkini, AHY sedang coba ditawarkan oleh ayahnya ke Gerindra. Nyaris seperti barang dagangan. Sepertinya tak pernah sekalipun SBY menanyakan ke AHY ingin berpasangan dengan siapa. Bisa dibayangkan jika seorang AHY yang seperti barang dagangan suatu saat memimpin Indonesia. Akan jadi apa nasib Indonesia?

Dan parahnya, baru kali ini AHY menyadari bahwa dirinya seperti barang dagangan.

Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut dirinya selalu dijadikan objek atau komoditas politik karena kerap dipasangkan dengan tokoh-tokoh terkait pilpres. Ia pun merasa dirinya seperti terjual sana-sini..POKER88

"AHY selalu dijadikan objek atau komoditas dalam politik dipasangkan seperti terjual sana-sini," kata AHY saat memberikan sambutan di acara halalbihalal media di Restoran Eastern Opulence, Jalan Cikupa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (20/7/2018)..POKER88

Dia mengatakan, berdasarkan data dari lembaga survei, saat ini ada 40 persen masyarakat yang menunggu poros alternatif pada Pilpres 2019. Menurutnya, masyarakat punya hak menantikan sosok alternatif tersebut.
AHY pun berharap politik di Indonesia semakin dewasa ke depannya. Dia juga mengingatkan agar rakyat tidak mudah terprovokasi oleh upaya memecah-belah bangsanya yang dilakukan pihak tertentu..POKER88

Saya kira setelah menyadari dirinya seperti barang dagangan yang dijual kesana kemari oleh ayahnya, AHY sedikit merasa kesal. Namun justru AHY tak sedikitpun merasa risau. AHY bahkan terkesan tidak masalah meskipun diperlakukan seperti barang dagangan oleh ayahnya. Benar-benar memprihatinkan. Di usia yang tidak remaja lagi, AHY masih tak berdaya di hadapan ayahnya..POKER88

Masih mending jika AHY laris manis di pasaran. Yang ada, hingga detik ini AHY belum laku. Apa AHY tidak merasa sedih dan kesal dirinya dianggap seperti dagangan yang tak laku-laku? Ini yang menarik. AHY terlihat fine-fine aja dengan keadaan yang sedang dijalaninya..POKER88

Apa yang terjadi dengan SBY dan AHY membuktikan satu hal, yaitu kehebatan SBY dalam mendidik anak-anaknya. Berbeda dengan Jokowi yang mendidik anaknya untuk mandiri, tidak bergantung kepada ayahnya, serta membebaskan untuk berkreasi, SBY justru mendidik anaknya agar patuh terhadap apa yang diinginkan oleh ayahnya. SBY menghendaki anaknya mengikuti apa yang dia perintahkan, termasuk masalah pilihan profesi. Anak SBY tidak bisa berkreasi dan memilih profesi yang ia sukai, tapi harus pasrah terhadap profesi yang dipilihkan oleh ayahnya.

Saya membayangkan anak-anak SBY tidak akan mendapat kebahagiaan karena tidak memiliki kehendak bebas. Sebaliknya, anak-anak Jokowi jelas bisa mendapatkan kebahagiaan karena bebas memilih pekerjaan yang disukai.

Silahkan baca artikel di: https://seword.com/author/saefudin/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar