Sandiaga Uno : Air Dan Hujan Adalah Anugrah,Gakperlu Menggusur Air akan kering.



MIMPI MANIS - Banjir dengan tinggi bervariasi menimpa sejumlah wilayah di DKI Jakarta akibat besarnya debit air sungai Ciliwung dari Bendung Katulampa, Bogor, Senin (5/2).

Bencana tahunan ini menjadi catatan untuk kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang baru berusia sekitar tiga bulan. Sebelumnya, bencana banjir terjadi pada pertengahan Desember 2017 silam.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai langkah mengurangi dampak bencana banjir di sekitar Jakarta adalah dengan membersihkan dan memperdalam sungai.


Menurutnya, langkah normalisasi sungai tersebut belum dilakukan Anies-Sandi sejak memimpin Jakarta pada 16 Oktober 2017 lalu.

"Saya belum lihat mereka bersihkan sungai," kata Agus.

Normalisasi bukanlah barang baru dalam pengelolaan banjir di ibukota Republik Indonesia ini. Kemarin, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane menyatakan akan kembali berkoordinasi dengan pemprov DKI untuk melanjutkan program normalisasi sungai yang sudah dilakukan sejak era gubernur sebelumnya.

"Untuk program selanjutnya, normalisasi Ciliwung dari 33 kilometer baru 16 kilometer. Kita akan minta bantuan kepada bapak gubernur agar ini bisa segera lanjut, dan bisa meminimalisasi [risiko] banjir," kata  Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane Jarot Widyoko, Senin (5/2).

Namun secara terpisah, saat disinggung soal lahan bagi sungai tersebut, Anies kemarin enggan membicarakannya. Ia berdalih tunggu banjir di sejumlah titik bantaran kali Ciliwung di Jakarta surut terlebih dulu.

“Nantilah, ini orang lagi pada ngungsi masa ngomongin geser (warga),” kata Anies di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (6/2).

“Yang penting sekarang pengungsi dapat bangunan cukup untuk ngungsi, makanan cukup, (penanggulangan banjir) di tangani satu-satu,” sambungnya.

Anies-Sandi sendiri memiliki program normalisasi seluruh sungai yang ada di Jakarta. Untuk memperlancar program tersebut, Anies pernah menyebut bakal ada opsi menertibkan bangunan liar yang dibangun di kawasan bantaran sungai di Jakarta.

"Begitu ada rencana pembangunan, langsung dihentikan. Karena jelas-jelas itu wilayah yang tidak boleh ada bangunannya dan bangunan itu di mana-mana ada," kata Anies, 13 November 2017.

Jakarta Tak Dapat Hindari Tingginya Aliran Air dari Bogor

Dalam sejarah banjir di Jakarta ada istilah ‘banjir kiriman’ merujuk pada tingginya debit air yang keluar dari Bendung Katulampa di Kota Bogor ke aliran sungai Ciliwung.

Agus mengatakan, posisi yang berada di bawah Bogor membuat Jakarta tak dapat menghindari bencana banjir. Atas dasar itu ia mengatakan program normalisasi sungai hanya dapat mengurangi dampak, bukan membebaskan Jakarta dari banjir.

Meskipun begitu, ia menilai normalisasi sungai sebagai solusi utama untuk mengurangi dampak banjir di Jakarta di masa mendatang.

"Harus mengeruk sungai itu satu-satunya cara mengurangi, bukan membebaskan banjir. Jakarta pasti banjir," tutur Agus.

Lebih dari itu, Agus mengaku menunggu langkah yang diambil Anies-Sandi untuk mengatasi banjir di Jakarta. Menurutnya, program normalisasi sungai harus diprioritaskan dibandingkan program lainnya.

"Normalisasi sungai itu yang utama, daripada urus rumah dp nol persen (DP nol rupiah) nggak ada aturan, nggak ada hasilnya," nilai Agus.

Sementara itu, dilansir dari situs milik BBWS Ciliwung-Cisadane, Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung memiliki luas 337 km2 dengan panjang sungai mencapai 109,7 km dari hulu hingga hilir.

Aliran sungai ini di Manggarai bercabang dua, yakni melalui Kanal Banjir Barat dan sebagian lagi ke Ciliwung lama.

Proyek normalisasi sungai secara keseluruhan dilakukan sejak 2013 silam dengan tujuan mengembalikan kondisi lebar sungai jadi normal antara 35-50 meter. Jika kondisi ideal itu terjadi, kapasitas tampung air Ciliwung menignkat hingga 570 meter kubik per detik.

Dalam proyek normalisasi ini terdiri atas beberapa hal termasuk perkuatan tebing, pembuatan tanggul dan jalan inspeksi 6-8 meter, serta penataan kawasan di sepanjang sisi sungai.

Proyek ini dibagi pada empat paket yakni Pintu Air Manggarai-Jembatan Kampung Melayu (4,89 km), Jembatan Kampung Melayu - Jembatan Kalibata (6,61 km),  Jembatan Kalibata - Jembatan Condet (6,49), Jembatan Condet - Jembatan Tol JORR Simatupang (6,18 km).

Sementara itu, saat meninjau lokasi banjir di Cawang, Jakarta Timur, Sandiaga mewacanakan merelokasi warga yang kediamannya kerap terendam banjir di lokasi itu.

“Ada (opsi merelokasi), kalau masyarakatnya setuju,” kata Sandiaga usai meninjau banjir di Cawang, Jakarta, Senin malam (5/2).

Titik banjir di lokasi itu berada di RT 10, 11, dan 12 RW 2 Jalan Arus, Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Wilayah permukiman warga RW 2 sendiri berada tepat di tepi Kali Ciliwung.

Sandiaga menjelaskan, Pemprov DKI jakarta telah menawarkan program kepada warga setempat perihal relokasi bersama Pemerintah Kota Jakarta Timur beberapa bulan yang lalu. Selain itu, dia mengatakan pihaknya telah menyiapkan rencana dan anggaran andai kebijakan relokasi dilaksanakan.

Sandi menerangkan saat kebijakan ditawarkan, warga belum menyatakan setuju dan menilai banjir sebagai hal biasa yang terjadi saban tahun. Itu pun bisa dilihat dari kesiapan hampir setiap keluarga di sana memiliki getek berbahan dasar gabus yang digunakan untuk beraktifitas saat banjir melanda.

Namun kini, tutur Sandiaga, sudah ada sejumlah warga yang berubah pikiran dan setuju relokasi.

“Tadi Pak RW 02 sampaikan, sebagian dari warga sudah setuju. Nah itu mungkin akan kita eksekusi

Sandiaga tidak menjelaskan secara rinci mengenai bentuk hunian yang akan dijadikan tempat relokasi. Begitu pula perihal lokasi. Dia hanya ingin lokasi relokasi tidak jauh dari tempat tinggal warga sebelumnya.

"Nanti kita lihat. Harusnya sih tidak terlalu jauh dari sini," kata Sandiaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar