"Mukjizat Tuhan Terus Bekerja dalam Orang yang Dilupakan..." (2)


KEMANUSIAAN - Hubertus Lothe (36) mengalami gangguan jiwa sejak 2015. Keluarga memutuskan untuk memasungnya.

Di sebuah pondok yang dibuat tak jauh dari kompleks itu, Hubertus dibaringkan beralaskan pelupuh bambu. Lubang di tanah dibuat agar dia bisa membuang kotorannya.

Selama dua tahun dia terbaring sendirian di pondok itu. Rambutnya panjang dan tak terurus. Sehari-hari, dia diberi makan oleh saudarinya, Wihelmina Ega.

Kadang-kadang dia berteriak pada tengah malam untuk meminta minuman kopi dan rokok.

Senja mulai menutup langit di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tak biasanya langit cerah, karena hujan mengguyur seluruh wilayah Flores. Awan tebal menutup langit di bumi Flores, walaupun matahari tetap memberikan sinarnya.

Saat sinar matahari beranjak, ada satu peristiwa ajaib yang dirasakan seluruh pengelola Panti dan Klinik Renceng Mose Ruteng, di Kampung Leda, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Flores, NTT, Rabu (17/1/2018).

Hari itu, satu peristiwa ajaib dan mukjizat terjadi dalam diri seorang manusia yang selama 10 tahun dipasung di Kampung Kower, Kelurahan Ronggakoe, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT.

Namanya, Hendrikus Junda (32). Ia orang dengan gangguan jiwa ( ODGJ) dan dipasung selama 10 tahun di dalam rumahnya.

Keajaiban nyata terjadi dalam diri Junda karena mengalami kesembuhan total setelah dirawat selama 5 bulan 17 hari.

Tibalah hari yang dinanti. Koordinator Lembaga Kesejahteraan Sosial Elisabeth dan Yayasan Permata Flores (YPF) Manggarai Timur membawanya pulang dari kamarnya di Panti Renceng Mose Ruteng menuju ke Kampung Kower, Kelurahan Ronggakoe.

Ia diantar Kepala Panti Renceng Mose Ruteng Bruder Ferdinandus FC, rekan, serta perawat di panti itu hingga halaman panti. Bersama dengan jinjingan plastik berisi pakaian, ia masuk mobil Avanza sekitar pukul 16.15 Wita.

Rombongan yang terdiri dari jurnalis bersama Junda kemudian bergerak menuju ke Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Rombongan beristirahat sejenak di Rumah Makan Podomoro untuk santap sore.

Menu makan sore itu adalah ayam kampung, nasi putih ditambah sayur mayur. Menu makan sore sesuai dengan selera masing-masing.

Usai makan sore, kendaraan roda empat yang mengantar Junda bergerak menuju timur Pulau Flores dengan melewati jalan berkelok-kelok seperti ular dari Kota Ruteng menuju ke kampungnya.

“Kami menempuh perjalanan selama empat jam penuh tanpa istirahat. Kami tiba di Kantor Lurah Ronggakoe sekitar pukul 19.00 Wita. Kami sudah ditunggu keluarga Junda yang menantikan kedatangannya sejak siang hari,” ujar Koordinator Lembaga Kesejahteraan Sosial Elisabeth Manggarai Timur, Marna Babut kepada Kompas.com di Borong, Rabu (17/1/2018).

Marna mengisahkan pengalamannya ketika bertugas sebagai kepala seksi jaminan sosial dan rehabilitasi di Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur. Ia menangani ODGJ di Manggarai Timur.

Bahkan, sejak ada panti dan klinik Renceng Mose Ruteng, ia bersama Lurah Ronggakoe, Erasmus Jalang menangani ODGJ serta membawa orang yang dipasung ke Panti Renceng Mose Ruteng.

Selama 2017, setidaknya empat orang yang dipasung dibongkar dan dibawa ke Renceng Mose Ruteng untuk mengikuti perawatan dan terapi. Hasilnya, empat orang sembuh, walaupun masih minum obat secara rutin.

“Saya senang bekerja secara sukarela untuk membantu dan menolong ODGJ di Manggarai Timur. Saya bentuk lembaga sosial untuk meringankan penderitaan sesama saudara di Manggarai Timur,” jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar