Buaya Raksasa Dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting


SATWA LIAR ``Warga Sungai Arut Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, diminta tak mengkhawatirkan buaya berukuran raksasa yang dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Rabu (10/1/2017) pagi.

Buaya yang semula sempat direncanakan dilepas kembali ke Suaka Margasatwa (SM) Lamandau, itu akhirnya dilepas ke Sungai Buluh Kecil, di dalam kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Fajar Dewanto, Field Diretor Orangutan Foundation International (OFI), menuturkan, buaya jenis sinyulong yang biasanya beredar di kawasan hulu sungai itu, diberangkatkan ke TNTP, via Dermaga Pantai Kubu, 25 kilometer dari kantor SKW II BKSDA Kalimantan Tengah, di Pangkalan Bun.

Dari Pantai Kubu, buaya itu diangkut dengan kelotok oleh staf BKSDA dan OFI.

"Buayanya sudah dalam perjalanan ke Sungai Buluh Kecil untuk lepas liar. Kasihan sudah sejak kemarin," kata Fajar, Rabu (10/1/2017) sore.

Fajar menilai, Sungai Buluh tempat terbaik yang ada bagi hewan pemangsa itu. "Di muara Sungai Buluh banyak buaya muara. Di hulu, habitat dan populasi sinyolong paling baik," lanjutnya.

Pelepasliaran buaya ini, praktis memupus kekhawatiran warga Bantaran Sungai Arut, yang khawatir bila sang predator dilepas di SM Lamandau, akan mudah mengakses Sungai Arut tempat pemukiman padat. Kekhawatiran ini wajar karena SM Lamandau dan Sungai Arut masih dalam satu aliran, dan jaraknya tak jauh.

Penolakan Warga

Sebelumnya, warga bantaran Sungai Arut sempat menyapaikan aspirasi penolakannya terhadap rencana evakuasi buaya berbobot 1 ton dan panjang lebih dari 5 meter itu via media sosial. Salah satunya, dari Koko Sulistyo (42), warga Kelurahan Raja Seberang, Pangkalan Bun.

"Jangan sampai datuknya buaya yang beratnya satu ton itu menyasar ke perkampungan kami. Anak-anak kami, umak-umak kami, nenek-nenek kami, seluruhnya beraktivitas di Bantaran Arut. Tolong dikaji lebih mendalam dampak keselamatannya pada masyarakat. Apa tidak konyol menaruh buaya di SM Lamandau yang jaraknya hanya 4-5 kilometer dari perkampungan kami," kata Koko, saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (10/1/2017) siang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar