Berlebihan sampai ada gerakan Belanja di Warung Pribumi


 www.koranqq.com

Gencarnya isu kesatuan yang dikumandangkan, membuat beberapa manusia malah menjadi semakin tidak jelas. Alih-alih ingin mempersatukan agama dan etnis, mereka malah terjebak di dalam sebuah pusaran yang senantiasa menghisap mereka ke dalam realita semu.

Apa realita semu yang mereka jalankan? Realita semu itu sebenarnya berkait erat dengan impian mereka mengenai sistem pemerintahan yang ‘satu’, dan dinamakan oleh Khilafah. Sebenarnya ini hanya pandangan saya yang sempit mengenai para laskar.

Di negara Indonesia, kita tahu bahwa sistem negara ini sangat mengakomodir kehidupan yang sangat beragam, baik dari suku, agama, ras dan antar golongan yang disingkat sebagai SARA. Namun impian mengenai negara khilafah, rasanya menjadi sebuah hal yang memengaruhi kehidupan pemikiran dan kehidupan bernegara mereka.

Sulit bagi mereka untuk menjadi orang-orang yang menghargai keberagaman yang ada di Indonesia. Keberagaman yang begitu luas menjadi sebuah cara pandang yang begitu ringkih. Kebinekaan dari sebuah kebudayaan Indonesia merupakan satu hal yang perlu diperjuangkan, karena sulit mempertahankan keberagaman.

Jika semua adalah satu, maka kita sebenarnya akan terjebak kepada dua kemungkinan, yakni sistem negara sosialisme dan sistem khilafah. Kedua-duanya bagi saya rasanya bukan lagi sistem negara yang relevan di jaman modern ini. Khilafah dan sosialisme merupakan dua saudara kembar yang berbeda agama, tak perlu saya sebut agama apa juga, kan? Kedua sistem ini sebenarnya bukan sistem yang bersahabat, mengingat akan keberagaman di Indonesia yang begitu bervariasi.

Salah satu bentuk halus dari bibit sistem negara khilafah yang berbau sosialis mulai muncul dan menjamur belakangan ini. Selama pemerintahan sebelumnya, kita tahu bahwa tidak banyak demo-demo dan aksi-aksi yang diluncurkan oleh para laskar. Entah apakah karena mulut mereka disumpal nasi bungkus, atau memang diberikan kandang yang bagus, di sini saya tidak mau berpolemik.

Namun yang pasti di era pemerintahan Pak De Joko Widodo, mereka terlihat liar, apakah karena kandang mereka mulai kekeringan? Ataukah pasokan nasi bungkus sudah tidak ada? Ah lagi-lagi saya tidak ingin bermanuver disini, karena memang mereka terlalu mudah untuk ditebak. Hahaha.

Apa bentuk halus dari sistem sosialis dan khilafah? Bentuk ini dapat ditemukan di dalam sebuah gerakan yang dimunculkan oleh salah satu ormas keagamaan tertentu. Alih-alih ingin menegakkan agama tertentu, mereka malah menjadi citra buruk bagi Indonesia. Setelah HTI dibubarkan karena paham dan ideologi khilafah yang digadang-gadang sebagai pengganti Pancasila, siapa lagi yang akan dibubarkan?

Gerakan belanja di toko pribumi adalah sebuah gerakan yang dimunculkan, sebenarnya untuk memperkeruh suasana. Di tengah-tengah kehidupan yang beragam ini, mengapa harus ada toko pribumi? Apa itu pribumi? Apakah mereka mengerti akan definisi pribumi? Jikalau mereka mengklaim mengerti definisi pribumi, definisi yang diambil dari siapa? Apakah sumber definisinya terpercaya? Ah semakin ditanya, saya hanya membuktikan bahwa mereka semakin terlihat tidak berpikir.

Mengapa harus keluar istilah pribumi di tengah-tengha bangsa yang beragam ini? Ingin mempersatukan atau justru malah memecah belah? Sebenarnya hanya Tuhan yang tahu, karena merekapun rasanya tidak tahu. Ada teman saya di Facebok yang memberikan sebuah satir mengenai hal ini. Ia mencoba untuk menyelami pemikiran para penggagas Gerakan Belanja di Toko Pribumi.  Demikian isinya.
Ingat, tulisan di atas hanya satir. Jika ada yang kepanasan dan ingin mencoba mengklarifikasi dengan urat, artinya Anda adalah sumbu pendek, karena tidak bisa mencerna satir. Namun satir yang ditulis sangat jelas, karena memang rasanya tidak berlebihan dalam mencerminkan strategi pemilik toko. Hehehe.

No comments:

Post a Comment