Anies Pakai Seragam Saja Bingung, Bagaimana Pimpin Jakarta?kacau !!!!



 www.koranqq.com

    "Urusan seragam saja kita harus belajar. Tadi pagi bingung mau pake baju yang mana ini… Bang Sandi sudah lama enggak pakai seragam, katanya SMA terakhir pake seragam. Kalau saya masih mending, tahun lalu saya masih pake seragam," ujar Anies saat memberikan arahan kepada pejabat DKI di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (17/10/2017).

Lagi-lagi kebingungan demi kebingungan sangat saya rasakan ketika melihat hari kedua Anies Sandi menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Mengapa saya terheran-heran dan bingung? Jelas kebingungan saya ini ada karena ada Anies yang bingung. Kebingungan saya, ingin saya tularkan juga kepada para pembaca Seword, agar kita sadar betapa bingungnya kita melihat Anies yang bisa memimpin Jakarta, padahal urusan seragam saja ia bingung.

Seorang pemimpin yang terhisap dalam sebuah urusan detail yang tidak penting, bukanlah seorang pemimpin. Pada hakekatnya atau sejatinya, pemimpin adalah seseorang yang benar-benar memikirkan segala sesuatu dengan cepat.

Apakah kebingungan Anies dengan pilihan bajunya, adalah sebuah kedok untuk rasionalisasi keterlambatannya pergi dinas di kantor Balai Kota? Mungkin saja suatu saat, Anies akan terlambat dan bisa saja beralasan karena ia sedang galau memikirkan baju apa yang akan ia pakai pada hari itu. Lagi-lagi urusan seragam yang remeh temeh pun diutarakan di dalam melaksanakan pengarahan.

Lagi-lagi manusia teoritis bernama Anies Rasyid Baswedan adalah manusia yang benar-benar membingungkan segala hal. Bayangkan, tidak pernah terpikir di dalam pikiran kita semua bahwa ia yang menang besar di DKI Jakarta, yakni 58 persen, bisa bingung memilih baju dinas. Alasannya sederhana, ia sudah satu tahun lebih tidak menggunakan seragam. Inikah yang dinamakan keberpihakan?

Ataukah Anies sedang menggiring opini bahwa Presiden Jokowi adalah dalang dari setiap kebingungannya di dalam memilih baju? Apakah dengan kalimat “sudah lama enggak pakai seragam”, ia ingin menyalahkan Presiden Joko Widodo? Rasanya tidak berlebihan jika kita tiba pada kesimpulan tersebut.

Saya cukup yakin, jika orang seperti ini bingung dalam hal detail, ia akan bengong dan tidak bisa berbuat apa-apa mengenai penutupan Alexis, normalisasi Sungai Ciliwung, program-program janji manis DP Nol, OK OCE, dan seterusnya. Mau dibawa kemana Jakarta kita? Apakah Jakarta kita akan dijadikan sarang-sarang preman dengan dilibatkannya para preman untuk menjadi tukang tagih? Inikah yang disebut maju kotanya, bahagia warganya?

Baru dua hari bekerja, ia sudah membingungkan warga Jakarta, dengan kebingungannya dalam memilih pakaian. Rasanya, kita harus benar-benar berbesar hati dalam menerima Anies Rasyid Baswedan, manusia berdarah Arab ini. Terima saja keberadaannya apa adanya. Karena memang begitulah mentalnya. Saya sangat percaya bahwa saya memang gagal move on, apalagi ketika melihat kebingungan Anies yang ditunjukkan.

Makin lama, ia akan makin bingung, dan membuat seluruh warga Jakarta bingung, dan akhirnya saking bingungnya, bisa saja ia pun di dalam kebingungannya, maju menjadi capres atau cawapres dari faksi partainya. Pada akhirnya, kita pun yang dibuat bingung, mau tidak mau memilih manusia bingung ini untuk memimpin negara.

Inikah yang namanya keberpihakan? Atau keberbingungan? Sudah terlalu banyak kata “bingung” yang saya tuliskan di artikel ini. Sejauh ini, sudah ada 26 kata “bingung” di artikel saya, ditambah barusan, sudah ada 27. Apakah perlu saya tambahkan kata tersebut sampai ada 212 angka? Rasanya tidak perlu bukan?

Tujuan artikel ini dibuat adalah untuk membuka wawasan 58% persen warga Jakarta yang di dalam ke(sensor)annya bisa memilih pasangan ini. Saya percaya bahwa mayoritas 42 persen warga sudah paham betul dengan apa yang saya katakan. Maka artikel ini ditujukan justru kepada 58 persen warga yang masih (sensor) karena Anies yang (sensor) dengan bajunya.
Jika jauh sebelum ini kita mengenal satu jargon “Bagaimana mau memimpin negara jika keluarga pun tercerai berai?”, sekarang kita pun ketambahan satu jargon baru, “Bagaimana mau menata kota, jika menata pakaian dinas pun bingung?”. Selamat datang di kota yang penuh dengan kebingungan.

Betul kan yang saya katakan?

2 comments:

  1. http://portaltribune.blogspot.com/2017/10/anda-pribumi-pak-gubernur.html

    ReplyDelete
  2. http://portaltribune.blogspot.com/2017/10/anda-pribumi-pak-gubernur.html

    ReplyDelete