Ketika ISIS Jadikan Anak-Anak Sebagai 'Martir' Masa Depan


 www.koranqq.com


Bocah asal Indonesia, Hatf Saiful Rasul dikabarkan tewas dalam serangan udara di Suriah pada 1 September 2016 silam. Hatf, bocah 12 tahun itu merupakan salah satu dari banyak anak-anak yang menjadi pasukan petarung ISIS di medan perang.

Pengamat terorisme, Al Chaidar mengatakan, penggunaan anak-anak sebagai 'martir' oleh ISIS sudah dilakukan sejak lama. ISIS ingin menanamkan pemikiran jihad kepada anak-anak untuk melawan Barat.

"Ya sudah lama. Mereka ingin melawan Barat dengan menggunakan anak-anak, juga untuk melatih mereka berjihad," ujar Al Chaidar kepada CNNIndonesia.com, Rabu (13/9).

Penggunaan anak-anak oleh ISIS bukan karena kekurangan personel. Tapi ISIS ingin membenamkan doktrin jihad dan janji Surga ke dalam pikiran sedari anak-anak. Selain itu, mereka juga mendoktrin anak-anak bahwa berjihad akan memberi Syafaat kepada keluarganya.

"Itu kepercayaan eskatologis mereka. Ini biasa terdapat pada gerakan-gerakan millenarian," ujar dia.

Al Chaidar menjelaskan, anak-anak oleh ISIS memang disiapkan untuk menjadi 'martir' dan pasukan pejuang di masa mendatang. Mereka menginventarisasi anak-anak untuk kemudian dilatih dan dikaderisasi sebagai pejuang cilik.

Bicara Hath Saiful Rasul maka tak lepas dari sang ayah, Syaiful Anam yang merupakan narapidana kasus terorisme.
  www.koranqq.com

Pria berusia 36 tahun itu memiliki tiga nama samaran, yakni Brekele, Mujadid, dan Idris. Ia ditangkap personel tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri atas serangan teror bom rakitan di Pasar Tentena, Poso, Sulawesi Tengah pada 28 Mei 2005.
Syaiful melakukan aksinya bersama Ardin Djanatu dan Aat dengan meletakkan dua bom rakitan di tempat terpisah, di dalam Pasar Tentena dan depan teras sebuah toko dekat Bank BRI. Aksi ini mengakibatkan tercatat 23 orang tewas dan sedikitnya 40 orang luka-luka.

Syaiful sendiri diketahui telah memberangkat keluarganya ke Suriah untuk mendukung perjuangan ISIS sejak lama, yakni sekitar tahun 2015.

Al Chaidar pun tak menampik, peran orang tua sangat berperan dalam kasus Hath ini. Syaiful Anam sebagai orang tua berperan sangat penting dalam mewarisi pemikiran radikal kepada keluarga, terutama anak-anaknya. "Ya (orang tua berperan mewarisi pemikrian jihad dan radikal kepada anak-anaknya)," kata Al Chaidar

No comments:

Post a Comment