Searching...
Sunday, April 9, 2017

Kemanusiaan Itu Tanpa Wadah, Tanpa Kotak Pembatas

11:08:00 AM


www.koranqq.com



Apabila anda mengikuti perkembangan berita pada akhir-akhir ini, anda akan banyak menemukan berita mengenai lancaran serangan oleh presiden Suriah, Bashar Al-Assad yang melancarkan serangan senjata kimia ke salah satu daerah kekuasaan pemberontak di Suriah, Khan Sheikhun pada Selasa (4/4). Dalam lancaran serangan tersebut, sekitar 35 orang tewas dan lebih banyak lagi orang yang mengalami gangguan pernapasan pasca serangan tersebut.Assad dianggap melanggar kesepakatan Pemerintah Suriah sendiri pada Konvensi Senjata Kimia dan diwajibkan menyerahkan senjata kimianya pada 2013. Namun, mereka kerap kali dituding menggunakan senjata kimia. Investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa rezim Suriah melakukan setidaknya tiga serangan gas klorin pada 2014-2015.

Lucunya, pemerintah Suriah selalu membantah tudingan tersebut. Mereka malah balik menuding bahwa para kelompok pemberontak lah sebenarnya yang menyerang menggunakan senjata kimia. Dan pada kali ini, lancaran serangan yang dilakukan oleh pemerintah dibela oleh Rusia yang terkenal konsisten dalam mendukung Assad. Rusia dengan jelas mengatakan bahwa saat serangan dilancarkan, rudal mengenai gudang senjata kimia milik pasukan pemberontak.

Kemudian beredarlah video yang menampilkan korban serangan di beberapa sosial media. Nurani saya pun tergugah untuk peduli terhadap ancaman atas nama kemanusiaan ini. Mulai dari saudara saya yang telah kehilangan nyawanya sampai pada keadaan sakratul maut tertampilkan dari video yang saya lihat. Mereka adalah saudara saya sebagai manusia yang sama-sama memiliki hak untuk hidup.

Harapan pun tak henti-hentinya saya ucapkan dalam hati agar saudara-saudara saya di sana senantiasa terlindungi dan jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali.

Manusia begitu mudahnya dibinasakan dengan senjata-senjata yang dibikin oleh sesama umat manusia sendiri. Jumlah korban yang begitu banyak mengindikasikan kekejian manusia yang dengan mudahnya mengambil keputusan untuk melakukan serangan tanpa memberi perhatian khusus dan pematuhan terhadap kitab Hak Asasi Manusia (HAM).

Selang beberapa hari setelah itu, akhirnya kasus ini menjadi sorotan serius bagi kaum pemuda kampus. Dan saya menjadi salah satu di antaranya. Saya senang dan salut, di balik kesibukan mahasiswa yang terkenal dengan garapannya membuat tugas berlembar-lembar, dan apalagi sekarang ini sedang fase Ujian Tengah Semester (UTS). Ada mahasiswa yang menaruh perhatiannya pada kabar yang berskala internasional.

Ada udang di balik batu. Ya, hal ini saya akui. Di balik rasa senang dan salut saya terhadap pemuda yang menyempatkan waktunya untuk peduli terhadap hal-hal seperti ini, tiba-tiba rasa salut saya hilang dalam sekejap.

Hilangnya rasa salut saya memiliki sebab. Sebab tersebut adalah ketika saya melihat seruan dari official account sosial media yang disebarkan oleh organisasi salah satu kenamaan kampus saya, membuat seruan yang bagi saya sangat primordial dan diskriminatif. Mungkin kurang peka atau memang sudah menjadi didikan dasar, mereka ini seakan-akan menganggap bahwa kasus ini hanyalah serangan terhadap kaum mereka sendiri.
Adapun saya gambarkan melalui kata-kata kiasan seruan tersebut seperti ini, “Bergeraklah atas nama kemanusiaan agar terdengar. Marilah kawan-kawan pemuda suatu kaum (disamarkan) agar kita bergerak demi tegaknya kemanusiaan bangsa.”

Sontak saya pun meringis dan tentunya sangat heran. Judulnya ingin bergerak atas nama kemanusiaan. Tambah-tambah menggunakan kata bangsa. Tapi seruannya agar sesama kaumnya saja yang bergerak. Jadi kalian itu peduli atas nama kemanusiaan atau kaum yang sama dengan kalian saja?

Kalau memang ingin berjuang atas nama kemanusiaan bangsa, ya sertakan semua pemuda tanpa mengenal kaum mereka. Kemanusiaan memang timbul dari religiusitas, namun apakah jika dalam kasus yang berbeda, di mana serangan terjadi di daerah yang kaumnya berbeda dengan anda-anda sekalian. Lantas kalian tidak membantu dan hanya diam ketika melihat manusia yang wujudnya sama dengan kalian teroyak-oyak oleh rudal dan tersengak-sengak oleh senjata kimia?

Apakah seruan tersebut telah mewakili seluruh orang yang ingin bergerak atas nama kemanusiaan bangsa? Bagaimana bila daerah Suriah terserang itu terdapat kaum yang berbeda dengan apa yang anda serukan? Tidakkah kalian melihat bahwa hal ini lebih mengancam penghargaan suatu tubuh manusia dibanding dengan kaum yang anda pedulikan saja?

Mungkin anda menilai saya lebay, alay, dan sejenisnya. Namun sadarilah, bahwa jika hal ini dibiarkan begitu saja dampak buruk akan terasa dalam jangka waktu yang ada. Bayangkan apabila anda menjadi seorang warga di zona konflik. Anda tidak mendapat bantuan logistik hanya dikarenakan anda berbeda kaumnya dengan mereka. Betapa ‘sendirian’nya anda memijakkan kaki di bumi ini. Lalu anda mulai berpikir, apakah kebhinekaan itu sebuah kutukan?

Sesuai dengan judul yang saya usung “Kemanusiaan Itu Tanpa Wadah, Tanpa Kotak Pembatas”. Saya ingin memberi peringatan kepada seluruh elemen pemuda hingga masyarakat, bahwa kepedulian harus timbul bukan karena kita adalah kaum yang menganut suatu kepercayaan yang sama, bukan karena ras yang sama, tetapi nurani kita tergerak karena kita adalah manusia.

Manusia yang sama-sama memijakkan kaki di atas bumi, sama-sama memiliki akal budi, dan sama-sama tidak memiliki kesempatan untuk langsung terlahir dianugrahi kesempatan untuk memilih suatu kepercayaan, ras, dan suku tertentu. Kebhinekaan itu takdir. Pedulilah atas nama manusia itu sendiri.

Jangan sampai anda terkena pengaruh buruk tidak ingin membangun pergerakan kolaborasi dengan umat yang lain hanya dikarenakan para pemuka religi yang takut kehilangan para pendengarnya dengan memanfaatkan ceramah yang hanya umat ingin dengar, tanpa memerhatikan Asbabun Nuzulnya. Seperti para kaum bumi datar yang sampai-sampai kebingungan menafsirkan kata awliya itu sendiri. Satu kata enam huruf. Konyol.

Tulisan ini dibuat berdasarkan opini murni sang penulis. Bukan membenci namun hanya sekedar menjadi pengingat. Segala kritik dan komentar membangun selalu menjadi motivasi penulis.

BERITA PERSEMBAHAN DARI WWW.KORANQQ.COM


0 komentar:

Post a Comment