Debat Pilkada, Anies, Agus, Silvi Kena Batunya dari Ahok



 www.koranqq.com


Jujur saya merasa terhibur dengan acara debat Pilkada DKI putaran pertama yang telah usai. Penampilan Ahok yang kalem dan jauh dari kesan meledak-ledak sesuai ciri khasnya mengungguli kedua lawan debatnya, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylvana.

Penampilannya Ahok kali ini tampak elegan, ia lebih sering terlihat tersenyum dan tertawa kecil melihat keculunan kedua pasangan yang baru pertama kali berjuang mati-matian ingin jadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Beda dengan penampilan Ahok yang meledak-ledak ketika mendampingi Jokowi dalam debat Pilkada DKI.

Kali ini intonasi suaranya pas, penguasaan materi yang di luar kepala, serta sedikit sentilan-sentilan yang bikin kedua pasangan lawan debatnya tersenyum kecut, kecuali Sandiaga Uno yang raut wajahnya tegang melulu.

Sentilan demi sentilan dimainkan Ahok dengan cantik dan menggelitik, mulai dari sentilannya terhadap pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Silvana Murni yang nafsu ingin jadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta,  tidak mengerti sistem keuangan, sampai sentilannya yang menohok kepada Anies Baswedan yang menolak usulan Buwas untuk memasukan kurikulum anti natkoba ketika Anies masih menjabat sebagai Mendikbud dulu, membuat suasana terasa segar dimana sisi entertain dari Ahok membuat kedua pasangan kena batunya.

Terlihat juga pada sesi terakhir dimana pertanyaan terhadap ketiga calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, apakah mereka akan maju menjadi calon Presiden atau Wakil Presiden pada Pemilu tahun 2019 mendatang, Ahok tampak terkekeh-kekeh dan membiarkan wakilnya, Djarot Saiful Hidayat, yang menjawabnya.

Beda dengan kedua pasangan lainnya,  yang menjawab adalah yang calon Gubernur, sedangkan Ahok membiarkan Djarot yang menjawabnya. Jelas bahwa Ahok sudah unggul melibas kedua pasangan itu dari awal acara, sehingga Ahok terlihat relaks dan santai di akhir acara.

Dalam debat Pilkada kali ini terlihat Ahok tidak begitu antusias seperti kedua pasangan lainnya yang begitu bernafsu, ia menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaannya apa adanya sesuai fakta dan data, dan sesekali untuk memeriahkan suasana, Ahok menyentil kedua pasangan itu dan menjadikan mereka bulan-bulanan dengan caranya sendiri.Kenapa demikian? Karena Ahok tahu betul kemenangannya untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta sudah dalam genggaman tangannya. Tipikal warga Jakarta adalah tipikal masyarakat yang realistis. Mereka memilih pemimpin Jakarta yang sudah terbukti kinerja dan prestasi-prestasi yang ditoreh, ibaratnya mereka tidak mau membeli kucing dalam karung.

Selain itu Ahok tidak melihat ada sesuatu yang baru dalam paparan kedua pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI. Namun ada satu pernyataan dari Anies Baswedan yang saya garis bawahi dan highlight disini karena saya menganggap ucapannya Anies Baswedan itu berbahaya, yaitu ucapannya yang menyentil Ahok, jika tidak menghargai kata-kata, maka itu memecah belah warga.

Ucapan ini mengingatkan saya akan kasus pemelintiran ucapan Ahok terkait penistaan agama, yang memiliki makna yang sama, yaitu memecah belah umat. Maksud pernyataan Anies itu jelas merupakan bentuk provokasi terselubung untuk menggeliatkan simpul-simpul alam bawah sadar seluruh warga DKI untuk mengingat kembali luka dan duka nestapa terkait penistaan agama.

Kelihaian Anies Baswedan untuk memprovokasi warga DKI dengan memanfaatkan momen debat Pilkada DKI ini melalui gaya pemaparannya yang dibuat sesantun mungkin, patut dicurigai juga. Saran bagi Ira Koesno sebagai Moderator Debat Pilkada DKI Jakata, agar lain kali langsung memotong jika ada pernyataan dari calon Gubernur atau Wakil Gubernur yang berpotensi provokasi.

Intinya, program debat Pilkada DKI ini bukan untuk saling bantai antar sesama kandidat, akan tetapi sebagai  sarana penilaian bagi warga DKI untuk memilih calon pemimpin DKI Jakarta yang terbaik sesuai dengan kapasitas dan kemampuan mereka masing-masing.

Kira-kira begitu.

  www.koranqq.com




No comments:

Post a Comment